Aku waktu itu melihatmu.
Dalam sebuah kotak bisu
yang aku sebut burjo dan angkringan.
Aku dan para karibku,
adalah nyawamu yang membisu.
Di sana kami sibuk mengelukan dan meneriakkan namanu.
Sementara kamu, nyawa kami
menopang otak, perut, juga dompret kami.
Aku waktu itu melihatmu.
Sepenggal puisimu yang diiris,
minta diantar pulang kepadaku.
Tapi aku masih sibuk,
beribadah di ibukota diamku.
Aku yakin, nyawa sebuah harap
tak mungkin satu rangkap.
Aku hari ini kembali melihatmu.
Nyawa-nyawa yang membisu,
pontang-panting melonglong menyerukan namamu.
Kamu sudah matikah?
Adilkah aku basah dalam air matamua?
Bolehlah aku, duduk bersama dalam jeruji sunyimu?
No comments:
Post a Comment