Kau memandanginya sedari tadi,
wanita yang duduk di meja ujung dekat jendela. Rambutnya panjang terurai,
sesekali ikut terbang bersama angin. Bibirnya manis, apalagi ketika berciuman
dengan tepian cangkir, kala ia meminum americano
yang ada di genggamannya sedari tadi. Waktu seperti ini tak hanya sekali
kau dapati. Malam-malam lalu kau juga sering melihatnya, duduk di meja yang
sama, dengan americano yang
sama pula. Biasanya kau lihat badannya dipeluk sweater hitam, yang cukup buluk untuk wanita secantik dia. Hingga
kau menerka-nerka itu merupakan kesayangannya. Selama itu pula kau rangkai
skenario-skenario, dalam rangka menjerumuskan dirinya dalam duniamu yang sudah
lama kering kerontang. Namun, selama itu juga kau gonta-ganti script skenariomu sampai sakit pikirmu,
dan lagi-lagi menikmatinya dari jauh adalah paripurna dari perjuanganmu.
Tapi
malam ini berbeda. Dikenakannya kemeja biru langit yang tergulung lengannya separuh, serta celana jeans biru panjang. Melingkar di
pergelangan tangan, sebuah jam hitam, pas dengan dirinya. Bibirnya ia poles lipstick pink tipis, tampak begitu
manis. Tak jemu-jemu aku memandanginya malam ini.
Sekonyong-konyong pandanganku
buyar! Pintu cafe yang ada di dekatku berdecit keras! Tampak dengan tak sopan
dan tertawa keras, muka sahabatku yang begitu girang. Wajar saja, hari ini
dirinya ingin mengenalkanku dengan pacar barunya, dia memang sialan! Tapi
secantik apa pun, aku yakin atas nama langit dan bumi, tak mungkin melebihi
keindahan wanita americano yang duduk
di meja ujung. Ditepuk bahuku keras-keras sembari menanyakan apakah aku sudah
menunggu terlalu lama. “Tidak” , jawabku singkat kepada dirinya. Sejurus
kemudian kutanyakan pada dia di manakah gerangan wujud pacar baru yang dia
agungkan-agungkan itu. Bukan jawab yang kudapat, justru ia melengos, ia tengok ke kanan dan ke kiri. Ia picingkan matanya ke
seluruh penjuru. Sampai kepalanya
tiba-tiba berhenti, senyumnya merekah, dilambaikan tangannya kencang-kencang. Bergidik badanku, aku tahu betul kemana pandangannya bermuara. Kutolehkan kepalaku cepat-cepat pada arah lambaiannya. Kudapati wanita americano itu membalas lambaian tangan sahabatku ini. Matanya berbinar- binar, terbit senyumnya yang lebar dan penuh bahagia.
Sekejap waktu diam, dunia
berhenti,
aku terpaku,
bibirku membeku,
lidahku kelu...
Duniaku runtuh sekali lagi.
No comments:
Post a Comment