Wednesday, 23 September 2015

Wanita Americano

Kau memandanginya sedari tadi, wanita yang duduk di meja ujung dekat jendela. Rambutnya panjang terurai, sesekali ikut terbang bersama angin. Bibirnya manis, apalagi ketika berciuman dengan tepian cangkir, kala ia meminum americano yang ada di genggamannya sedari tadi. Waktu seperti ini tak hanya sekali kau dapati. Malam-malam lalu kau juga sering melihatnya, duduk di meja yang sama, dengan americano yang sama pula. Biasanya kau lihat badannya dipeluk sweater hitam, yang cukup buluk untuk wanita secantik dia. Hingga kau menerka-nerka itu merupakan kesayangannya. Selama itu pula kau rangkai skenario-skenario, dalam rangka menjerumuskan dirinya dalam duniamu yang sudah lama kering kerontang. Namun, selama itu juga kau gonta-ganti script skenariomu sampai sakit pikirmu, dan lagi-lagi menikmatinya dari jauh adalah paripurna dari perjuanganmu.

                Tapi malam ini berbeda. Dikenakannya kemeja biru langit yang  tergulung lengannya separuh, serta celana jeans biru panjang. Melingkar di pergelangan tangan, sebuah jam hitam, pas dengan dirinya. Bibirnya ia poles lipstick pink tipis, tampak begitu manis. Tak jemu-jemu aku memandanginya malam ini.

Sekonyong-konyong pandanganku buyar! Pintu cafe yang ada di dekatku berdecit keras! Tampak dengan tak sopan dan tertawa keras, muka sahabatku yang begitu girang. Wajar saja, hari ini dirinya ingin mengenalkanku dengan pacar barunya, dia memang sialan! Tapi secantik apa pun, aku yakin atas nama langit dan bumi, tak mungkin melebihi keindahan wanita americano yang duduk di meja ujung. Ditepuk bahuku keras-keras sembari menanyakan apakah aku sudah menunggu terlalu lama. “Tidak” , jawabku singkat kepada dirinya. Sejurus kemudian kutanyakan pada dia di manakah gerangan wujud pacar baru yang dia agungkan-agungkan itu. Bukan jawab yang kudapat, justru ia melengos, ia tengok ke kanan dan ke kiri. Ia picingkan matanya ke seluruh penjuru. Sampai kepalanya tiba-tiba berhenti, senyumnya merekah, dilambaikan tangannya kencang-kencang. Bergidik badanku, aku tahu betul kemana  pandangannya bermuara. Kutolehkan kepalaku cepat-cepat pada arah lambaiannya. Kudapati wanita americano itu membalas lambaian tangan sahabatku ini. Matanya berbinar- binar, terbit senyumnya yang lebar dan penuh bahagia.





 Sekejap waktu diam, dunia berhenti,

 aku terpaku,

 bibirku membeku,

 lidahku kelu...


Duniaku runtuh sekali lagi. 

No comments:

Post a Comment