Puisiku lahir di Jendral Sudirman hingga Pangeran Mangkubumi.
Oleh papa-papa angkringan
hingga eksmud penyeduh kopi
yang rajin menyangrai biji rindunya.
Tidak seperti teman-temanku,
puisiku lahir dari dua ribu lima ratus perak,
beberapa kepul asap, nasi segenggam,
dan gorengan jelantah,
serta cinta yang ditusuk pada sebatang lidi.
Puisiku tak berima, syahdu juga bukan.
Ia ceracau, jelaga-jelaga penguasa.
Terkadang tanya-tanya yang ditinggal jawab.
Atau bahkan harap-harap yang prematur,
menangis saja tak mampu.
Jika kau nanti mencari puisi,
kan kuberikan cuma-cuma kepunyaanku.
Kalau kau punya puisi, tapi tak punya isi
bolehlah nanti kita saling mengisi.
Tapi jika kau ingin membuat puisi,
coba kau keluar rumah,
mungkin kau akan temukan tukangnya di sana.
No comments:
Post a Comment