Maaf sayangku,
aku bukan kekasih yang sempurna.
Aku hanya bisa
membawakanmu nasi sekotak tiap pagi.
Juga sesekali
kuberi kau setangkai mawar.
Melihat sungging
bibirmu yang tersenyum saja aku bisa bahagia seharian.
Maaf, jika
hari-hari ini aku tidak mengajakmu bertamasya lagi dengan bintang dan kerlipnya.
Rumah tiba-tiba
menjadi sekedar tembok-tembok dingin yang lapuk.
Cuilannya
jatuh bikin sakit kepalaku.
Aku lebih gemar
mapan di kamar kostmu.
Kadang-kadang
terlelap lebih bahagia daripada terjaga matamu dan tersadar,
bahwa hidup tak
seindah bianglala di pasar malam.
Maaf sayangku, nyatanya untuk kuat perlu waktu.
Besok kan
kubawakan lagi sekotak nasi,
tapi kali ini lengkap dengan bintang dan kerlipnya.
No comments:
Post a Comment