Sudah juga kau
habiskan cangkir ketiga kau hari ini.
Hitam pekat yang
mereka sebut kopi.
Tak taulah kau
apa itu sehat.
Sejauh yang kau
tau, si kopi mau menemani kau seharian.
Lalu jawaban yang
kau cari?
Masih ogah juga
ia nongol.
Mencari apa yang
bisa terhubung dan berpadu,
tak seperti
mencari kucing yang bisa mengeong.
Kalau baru seribu kali kau pencet kepala
tikus berkabel kau saja,
kau sudah menyerah
Apa kau tak malu dengan bapak ibu kau.
Yang entah telah berjalan berapa ribu
langkah.
Lalu saban sore kau cium bau kecut
keringatnya,
dari baju-baju yang tergantung di belakang
pintu kamar mereka.
Cuma buat isi
amplop kau,
Yang kau gembol berduyun-duyun
dengan teman kau,
lalu kau kasih itu ke
orang yang duduk di ruangan 3x4 meter
yang kau kenal
saja tidak.
Kau bilang mau
bikin Siti bahagia juga?
Modal apa yang
kau mau pakai?
Itu duit kau yang
kau pakai belikan makan dia saja masih dari kantong sahan kau.
Janganlah
jauh-jauh kau berkhayal.
Carilah dulu apa
yang akan kau tulis dalam kertas-kertas tebal itu.
Yang akan kau
tulis sehabis terima kasih kau kepada Tuhan kau, dosen kau, dan kedua orang tua
kau.
No comments:
Post a Comment