Tuesday, 6 December 2016

Secangkir Kopimu

Aku tau, kau tak perlu kutemani
Jalan panjang pukul satu dini hari
Adalah cangkir kopimu yang kesekian kali
Dan sekali lagi, kau tak perlu kutemani

Segaris matamu itu,
Lebih tabah dari punyaku yang sebesar bola pingpong.
Bisa jadi kau adalah sosok yang diceritakan oleh Sapardi,
Yang tak jengah menghitung jemari seorang diri.

Suatu ketika, kau mengajak aku untuk minum kopi.
Seperti biasa, kau tak perlu kutemani.
Kau memilih kopi seorang diri.
Menubruk kopi seorang diri.
Menyeduh kopi pun juga seorang diri.
Dan hanya kau seorang diri, meminum kopi yang berasa pahit.

Kau melukis rumah dalam cangkir kopimu.
Jika kau punya rumah tapi tak ada pulang di dalamnya,
Aku punya laut-laut yang berombakkan pulang di tepinya.

Malam makin mengantuk.
Matamu pun hampir mengatup.
Pada tegukanmu yang terakhir, kau melempar tanya padaku,

“Bolehkah aku, meminum luka pada secangkir kopimu?”

No comments:

Post a Comment