Sunday, 29 April 2018

Pulang ke Jogja

Perjalanan pulang membawa diriku kembali pada ruang-ruang yang mungkin seharusnya tak boleh aku kunjungi. Hobiku yang enggan menyelesaikan banyak hal, membuat diriku terikat kepada apa-apa saja yang kubiarkan berdiri tersenyum di depan kamarku. Pada momen-momen tertentu, aku akan berjalan mendekat ke pintu kamarku, lalu berbincang, tertawa, berkata rindu, lalu kemudian kembali duduk di meja belajarku. Aku tak pernah membawa mereka masuk. Aku juga tak pernah benar-benar keluar, lalu berjalan pergi menuju rumah orang-orang yang dengan sabar menengadahkan waktu untukku.

Lalu waktu yang aku tahu betul pasti akan datang menyapaku dengan sepi dan getir. Kulihat tangan-tangan yang hangat, yakin, dan mantap merangkul waktu dan orang-orang di depan kamarku. Aku masih bisa melihat mereka dengan jelas. Tapi sedekat apapun aku dengan pintu kamarku, suaraku tak akan sampai menepuk daun telinga penghuni selasar kamarku. Keterikatan yang secara sadar aku bangun pelan-pelan menjadi udara yang menyesakkan. Secara pasti, aku tahu betul akan semencekik apa, sesunyi apa, sedingin apa, dan semenangis apa keterikatanku tadi akan bermetamorfosa.

Mungkin pada dasarnya, kesepian hanya membutuhkan kesepian lain. Tangis, hanya membutuhkan tangis yang lain, kematian hanya membutuhkan kematian yang lain. Tapi aku terus bertanya kepada diriku sendiri, apa yang aku butuhkan? Karena aku tahu,bahkan aku tidak memiliki diriku sendiri.

Sesederhana kapan aku bisa meneleponmu, memintamu untuk membangunkanku pada waktu dinihari, berkunjung ke rumahmu dan meminum jus buatan ibumu, pergi ke Kesirat dan makan di ASP, saling meminjam koleksi buku-buku puisimu dan puisiku, memintamu berkunjung ke Tangerang, berkata aku akan pulang ke Jogja, memastikan padamu kalau aku merindukanmu.

Seyogyanya hidup terus berjalan, waktu juga akan terus berputar. Memiliki dan dimiliki, meraih dan diraih, memanggil dan dipanggil, menulis dan ditulis. 

Terima kasih. Aku mau kembali dulu ke kamarku.

No comments:

Post a Comment