Pulang akan menjadi dekat, hanya sejengkal, semacam kau dan batang rokokmu. Kau hanya perlu bersabar dan bersabar, berdoa dan berdoa. Begitu yang banyak kau dengar menggema di tiap Minggu soremu. Kau tak boleh melepas genggamanmu. Jangan juga kau kendorkan percayamu.
Tak jarang kau bertanya pada bangku-bangku panjang yang saban hari begitu sabar kau beri pantat itu. Juga pada langit-langit yang sudah mulai menghitam dan lapuk.
"Suatu waktu itu kapan? Pertemuan seperti apakah itu? Di manakah itu? Di waktu yang sebelah mana? Apakah di antara jarum pendek dan panjang itu? Atau justru pada tengah porosnya? Atau jangan-jangan pada waktu yang lain? Yang dipakai bapak-bapak berjas itu mungkin? Atau yang rusak dan ku tinggal di rumah?"
Sialnya, mereka tak juga luluh untuk memberi petunjuk kepadamu.
Sampai kau tiba pada sebuah malam. Kali ini bukan tentang ngeong-ngeong di rumahmu. Bukan juga dengan kantuk-kantuk yang mulai menipis di kasur kamarmu. Kau main dengan tenda dan tikar pinggiran. Jelantah yang digunakan berkali-kali, dan bikin perutmu buncit lagi dan lagi.
Bertemu kamu dengan yang kau rasa-rasa adalah pulang yang kau cari. Kau menerawang dengan benar-benar. Kata per kata bahkan kau dengar. Kau tak henti menerka. Terkunci leher sampai kepalamu. Hingga kau mulai meyakinkan diri bahwa ini adalah rumah dari segala rumah yang pernah kau temu dan kau berusaha yakini.
Makanan datang, tapi kau masih saja membidik dirinya. Tak tau malu kamu. Hingga pada detik terakhir sebelum kau putuskan untuk berhenti menerawang, ia memanjatkan doa.
Kau diam.
Lalu ikut berdoa.
Kau makan dengan diam yang sama seperti sudah-sudah.
Kau kandas lagi. Suatu waktumu belumlah datang.
No comments:
Post a Comment