Monday, 28 December 2015

Kita Masih Bermain Pasir Kemarin Sore

Kita masih bermain pasir kemarin sore
kau buat sungai-sungai, gunung, dan beberapa gua di sana
airnya kau dapat dari kran belakang sekolah.

Kau tanam beberapa ilalang, merupa hutan
katamu di sana gelap, tersesat jika ku tak bersamamu
tapi jika ku benar, ada stepa membentang
bisa kita berlari-lari dan berbaring di sana.

Sore lalu kita berjumpa kembali
bukan lagi sungai dari pasir dan kran belakang sekolah yang kau dengungkan
atau hutan-hutan dari ilalang, serta stepa yang ingin kau tiduri seharian.

Kepalamu penuh tumpukan kertas
tanganmu adalah pena dan tintanya
kakimu bau karpet-karpet apek
tak selincah dulu, tapi jauh lebih bersih kali ini.

Lalu semua dalam bak pasir itu?
Tak hilang juga ternyata.

Sungainya mengalir dalam bola matamu
terkadang banjir, jika kadar cintanya berlebihan
hutan-hutan ada di ruhmu
benar pula jika kubisa tersesat di dalamnya
dan semua stepa? 
Masih ada, tepat di dalam hatimu
tak pernah sempit untukku berbaring di sana.

Rasanya masih seperti kemarin sore,
ketika aku bermain pasir bersamamu.



No comments:

Post a Comment