Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

Tuesday, 14 February 2017

Rumah - Sebuah Visualisasi Puisi




"Bagi kami, rumah tak cuma tembok kokoh tetapi dingin. Rumah lebih kepada apapun yang menerima kami pulang apa adanya."


 Bertepatan dengan Hari Kasih Sayang, akhirnya kami bisa mengunggah video pertama kami. Sebuah sudut pandang lain dari realita kasih dan sayang. 

Kami tahu betul ada beberapa kesalahan dan kekurangan dalam penggarapan video ini. Oleh karena hal tersebut kami memohon maaf sebesar-besarnya. Untuk video selanjutnya, kami akan berusaha lebih teliti dan tidak deadliner seperti kali ini. Atas dukungannya kami mengucapkan terima kasih.

Wednesday, 18 January 2017

Mitos-Mitos Kecemasan

Kota kami dijaga mitos-mitos kecemasan. Senjata jadi kenangan tersendiri di hati kami, yang akan kembali membuat cerita, saat- saat kami kesepian. Kami telah belajar membaca dan menulis di situ. Tetapi kami sering mengalami kebutaan, saat merambahi hari-hari gelap gulita. Lalu kami berdoa, seluruh kerbau bergoyang menggetarkan tanah ini. burung-burung beterbangan memburu langit, mengarak gunung-gunung keliling kota.

Negeri kami menunggu hotel-hotel bergerak membelah waktu, mengucap diri dengan bahasa asing. O, impian yang sedang membagi diri dengan daerah-daerah tak dikenal, siapakah  pengusaha besar yang memborong tanah ini. Kami ingin tahu di mana anak-anak kami dilebur jadi bensin. Jalan-jalan bergetar, membuat kota-kota baru sepanjang hari.

Radio menyampaikan suara-suara ganjil di situ, dari kecemasan menggenang, seperti tak ada, yang bisa disapa lagi esok pagi.


Afrizal Malna
1985

Friday, 16 December 2016

Televisi Hari Ini

Plural ada teks yang usang,
tanda-tanda yang sudah kadaluarsa.

Beragam adalah salah dalam penulisan.
Data-data yang lemah dan terbuang.

Beda menjadi ganjil.
Serupa adalah mahabenar.

Wednesday, 14 December 2016

Desember - Joko Pinurbo

DESEMBER
Ingin kumimpikan banyak hal
dan pergi ke malam yang jauh
sambil membayangkan semuanya bakal kekal.
Di musim yang rusuh ini, di musim yang resah ini
hangatkan hari yang sebentar lagi tanggal.
Kau menungguku di sebuah pintu
dan aku datang melalui pintu yang tak kaulihat.
Aku duduk di sudut yang gelap.
Di pesta itu aku cuma pelancong tersesat.
Tak usah menyesal, aku pulang
lebih awal dari jadwal. Aku ingin pergi
menghabiskan mimpi sebelum kabut datang
memenuhi ruangan dan bara api
di atas ranjang mendadak padam.
Di musim yang rusuh ini, di musim yang resah ini
hangatkan hari yang sebentar lagi tanggal,
hangatkan hati yang tetap tinggal.
(1991)
---------------------------------------------------------

*Ku temu kamu di Desember yang rusuh. 
Kau abadi, aku yang sementara.
Kita tak akan terjadi.

Saturday, 13 February 2016

Cinta Sebatang Rokok

Ada yang terkekang dari asap-asapku.

(1)
Bukankah rokok-rokok tak pernah berteriak menyalak,
andaikata ia habis karena tak dihisap oleh kekasihnya?
Sekalipun abu-abunya jengkel bukan kepalang,
mereka mau apa?

(2)
Percakapan-percakapan antara puntung rokok dan asbaknya,
mungkin lain lagi ceritanya.
Si kretek bertutur kalau ia dihisap buat bikin bahagia penat kekasihnya
dari macul seharian.
Kadang-kadang kretek juga bau amis.
Kecipratan dirinya oleh sisik-sisik dan kotoran ikan,
yang disembelih kekasihnya untuk dijual ke pasar.

(3)
Si filter lain lagi ceritanya.
Dibakar dia untuk berdamai dengan kerja-kerja yang tak temu,
vespa yang mogok, atau perkara lotre-lotre yang tak jelas kapan tembusnya.
"Namanya juga jalan-jalan dan usaha", begitu kata si filter.

(4)
Eh, putihan tak mau ketinggalan!
Kekasihnya yang patah hati,
diajaknya minum-minum semalaman
Bau naga ia tadi pagi jadinya.
Bolos kelas tak apa.
Ada kalanya kesedihan harus dirayakan bukan?

(5)
Tapi memang kesedihan begitu adanya.
Asbak pasti akan gusar,
Jika semua saling rebut,
mana kesedihan yang paling sakit, yang paling lelah.
Sedih saja sudah sakit, tak perlu kau ungkit seberapa dalam lukanya.

(6)
Mungkin memang susah mencari yang setulus sebatang rokok.
Dihancurkannya ia pelan-pelan,
untuk kebahagiaan kekasihnya.

Monday, 28 December 2015

Kita Masih Bermain Pasir Kemarin Sore

Kita masih bermain pasir kemarin sore
kau buat sungai-sungai, gunung, dan beberapa gua di sana
airnya kau dapat dari kran belakang sekolah.

Kau tanam beberapa ilalang, merupa hutan
katamu di sana gelap, tersesat jika ku tak bersamamu
tapi jika ku benar, ada stepa membentang
bisa kita berlari-lari dan berbaring di sana.

Sore lalu kita berjumpa kembali
bukan lagi sungai dari pasir dan kran belakang sekolah yang kau dengungkan
atau hutan-hutan dari ilalang, serta stepa yang ingin kau tiduri seharian.

Kepalamu penuh tumpukan kertas
tanganmu adalah pena dan tintanya
kakimu bau karpet-karpet apek
tak selincah dulu, tapi jauh lebih bersih kali ini.

Lalu semua dalam bak pasir itu?
Tak hilang juga ternyata.

Sungainya mengalir dalam bola matamu
terkadang banjir, jika kadar cintanya berlebihan
hutan-hutan ada di ruhmu
benar pula jika kubisa tersesat di dalamnya
dan semua stepa? 
Masih ada, tepat di dalam hatimu
tak pernah sempit untukku berbaring di sana.

Rasanya masih seperti kemarin sore,
ketika aku bermain pasir bersamamu.



Tuesday, 22 December 2015

Secangkir Desember

Kita bertemu lagi, Desember

Lubang masih menganga pada atap-atap rumahku

maaf, setahun tak cukup tuk menutupnya..


Kopi-kopi meriak

mana yang lebih dingin

hujan di luar atau pergi yang kau gambar.


Kau bertolak bersanding

jarak-jarak yang tercipta

justru membuatku tak henti berangan.


Aku dan dia?

Ikatan kami hanya tercipta dari temu-temu yang terpaksa

silahkan kalian pilih sendiri apa namanya.


Telah usai?

Barangkali saat kau paripurna mencoba

buruknya lagi, tatkala cobamu tak lagi berguna.




Sunday, 6 December 2015

Menangkap Sajak dari Semusim Deru Rinai Hujan

Menangkap sajak dari semusim deru rinai hujan
diselipkannya rapi dalam tiap tetes-tetesnya
sejauh yang kita tahu hanya bau tanah dan basah kuyup sekujur tubuhmu.

Mendengar sajak dari semusim deru rinai hujan
sepatah-sepatah ia kata berjatuhan
lalu penuhi sekotak ruang telingamu.

Mengerti sajak dari semusim deru rinai hujan
senyummu merekah, mengalir membahasi kedua pipimu
lalu kau berganti berbisik, "aku merindukannya".

Menangkap sajak dari semusim deru rinai hujan
katakan padaku, jika kau merasa sama
temui aku kembali dalam semusim deru rinai hujan