Showing posts with label Poem. Show all posts
Showing posts with label Poem. Show all posts

Wednesday, 14 December 2016

Desember - Joko Pinurbo

DESEMBER
Ingin kumimpikan banyak hal
dan pergi ke malam yang jauh
sambil membayangkan semuanya bakal kekal.
Di musim yang rusuh ini, di musim yang resah ini
hangatkan hari yang sebentar lagi tanggal.
Kau menungguku di sebuah pintu
dan aku datang melalui pintu yang tak kaulihat.
Aku duduk di sudut yang gelap.
Di pesta itu aku cuma pelancong tersesat.
Tak usah menyesal, aku pulang
lebih awal dari jadwal. Aku ingin pergi
menghabiskan mimpi sebelum kabut datang
memenuhi ruangan dan bara api
di atas ranjang mendadak padam.
Di musim yang rusuh ini, di musim yang resah ini
hangatkan hari yang sebentar lagi tanggal,
hangatkan hati yang tetap tinggal.
(1991)
---------------------------------------------------------

*Ku temu kamu di Desember yang rusuh. 
Kau abadi, aku yang sementara.
Kita tak akan terjadi.

Saturday, 13 February 2016

Cinta Sebatang Rokok

Ada yang terkekang dari asap-asapku.

(1)
Bukankah rokok-rokok tak pernah berteriak menyalak,
andaikata ia habis karena tak dihisap oleh kekasihnya?
Sekalipun abu-abunya jengkel bukan kepalang,
mereka mau apa?

(2)
Percakapan-percakapan antara puntung rokok dan asbaknya,
mungkin lain lagi ceritanya.
Si kretek bertutur kalau ia dihisap buat bikin bahagia penat kekasihnya
dari macul seharian.
Kadang-kadang kretek juga bau amis.
Kecipratan dirinya oleh sisik-sisik dan kotoran ikan,
yang disembelih kekasihnya untuk dijual ke pasar.

(3)
Si filter lain lagi ceritanya.
Dibakar dia untuk berdamai dengan kerja-kerja yang tak temu,
vespa yang mogok, atau perkara lotre-lotre yang tak jelas kapan tembusnya.
"Namanya juga jalan-jalan dan usaha", begitu kata si filter.

(4)
Eh, putihan tak mau ketinggalan!
Kekasihnya yang patah hati,
diajaknya minum-minum semalaman
Bau naga ia tadi pagi jadinya.
Bolos kelas tak apa.
Ada kalanya kesedihan harus dirayakan bukan?

(5)
Tapi memang kesedihan begitu adanya.
Asbak pasti akan gusar,
Jika semua saling rebut,
mana kesedihan yang paling sakit, yang paling lelah.
Sedih saja sudah sakit, tak perlu kau ungkit seberapa dalam lukanya.

(6)
Mungkin memang susah mencari yang setulus sebatang rokok.
Dihancurkannya ia pelan-pelan,
untuk kebahagiaan kekasihnya.

Monday, 28 December 2015

Kita Masih Bermain Pasir Kemarin Sore

Kita masih bermain pasir kemarin sore
kau buat sungai-sungai, gunung, dan beberapa gua di sana
airnya kau dapat dari kran belakang sekolah.

Kau tanam beberapa ilalang, merupa hutan
katamu di sana gelap, tersesat jika ku tak bersamamu
tapi jika ku benar, ada stepa membentang
bisa kita berlari-lari dan berbaring di sana.

Sore lalu kita berjumpa kembali
bukan lagi sungai dari pasir dan kran belakang sekolah yang kau dengungkan
atau hutan-hutan dari ilalang, serta stepa yang ingin kau tiduri seharian.

Kepalamu penuh tumpukan kertas
tanganmu adalah pena dan tintanya
kakimu bau karpet-karpet apek
tak selincah dulu, tapi jauh lebih bersih kali ini.

Lalu semua dalam bak pasir itu?
Tak hilang juga ternyata.

Sungainya mengalir dalam bola matamu
terkadang banjir, jika kadar cintanya berlebihan
hutan-hutan ada di ruhmu
benar pula jika kubisa tersesat di dalamnya
dan semua stepa? 
Masih ada, tepat di dalam hatimu
tak pernah sempit untukku berbaring di sana.

Rasanya masih seperti kemarin sore,
ketika aku bermain pasir bersamamu.



Tuesday, 22 December 2015

Secangkir Desember

Kita bertemu lagi, Desember

Lubang masih menganga pada atap-atap rumahku

maaf, setahun tak cukup tuk menutupnya..


Kopi-kopi meriak

mana yang lebih dingin

hujan di luar atau pergi yang kau gambar.


Kau bertolak bersanding

jarak-jarak yang tercipta

justru membuatku tak henti berangan.


Aku dan dia?

Ikatan kami hanya tercipta dari temu-temu yang terpaksa

silahkan kalian pilih sendiri apa namanya.


Telah usai?

Barangkali saat kau paripurna mencoba

buruknya lagi, tatkala cobamu tak lagi berguna.